Kamis, 08 Oktober 2015

Kesombongan Seorang Gadis



KESOMBONGAN SEORANG GADIS

Jam menunjukkan pukul 2.30 sore, di dalam kamar 3 sahabat, denny, chaca dan merly  tengah asyik berbincang-bicang tentang ulang tahun merlly yang ke-17.
“Mer, jangan suka memilih cowo seenaknya kamu dong. Mana ada cowo yang tajir, cakep, pinter dan baik sekaligus. Nggak ada orang yang sesempurna itu”. Dengan kesal chaca menasihati sahabatnya itu.
“Ya mesti ada dong. Aku kan cantik, kaya dan normal. Nggak salahkan aku mencari yang sepadan denganku?”  balas merrly dengan sombong
Deny hanya menelan ludah dan mengusap dada melihat kelakuan sahabatnya itu. “tapi jadinya sampe umur kamu yang ke-17, kamu belum punya pacar kan?” sahut deny
“Ya itu sih, aku belum nemu yang sesuai dengan kriteria yang diidamkan” balas merrly
Lalu merrly menepuk dahinya “oh iya aku sampai lupa menelepon kantor event organizer buat ngomongin tema pestaku. Bentar yah aku mau nelepon” merrly pun menelepon kantor event organizer.
“halo, selamat sore dengan hotline psikologi 24 jam. Ada yang bisa saya bantu?”  suara lelaki yang mengangkat telepon dari Marrly
“hah?” Merrly pun bingung
“kenapa mer?” Deny pun ikut bingung melihat raut wajah sahabatnya itu
“kayanya aku salah sambung deh” sahut Merrly
“tidak kok, kamu tidak salah sambung. Kamu ada dijalur yang benar, memang sih pada awalnya agak sulit menceritkan masalah kamu. Perkenalkan nama saya ega” sahut ramah dari suara ponsel merrly
“ehmm.. saya Merrly” jawab Merrly
“oke ada yang bisa saya bantu Mer?” tanya ega
“nggak, saya ....” teriak Merrly
“sepertinya kamu masih malu, coba rileks aja. Gimana kalau kita ngobrol-ngbrol biasa saja dulu” memotong omongan Merrly
“et dah, kok jadi ribet gini sih?” bisik merrly
“kenapa? Mungkin pada awalnya kita bisa...” ujar ega
Merrly pun kehilangan kesabarannya
“masalahnya ya mas, saya tadi mau menelepon ke kantor event organizer, tapi malah salah sambung ke nomor anda. Sebenarnya tadi saya mau bilang salah sambung. Dasar bego lu!” bentak Merrly, merrly pun mengakhiri teleponnya.
“dasar gila tuh cowo, bawel banget. Sampe aku nggak dikasih kesempatan ngomong” merrly memberi penjelasan kepada kedua sahabatnya
“tapi kayaknya kamu nggak usah ngeluari kata – kata kasar kaya tadi deh” protes chaca

xxxx
Setelah kedua sahabat merrly pulang kerumah mereka, kakak merrly pun mendatangi kamar merrly karena mendengar adiknya berbicara kasar
“sekarang kamu harus menelepon ke nomor tadi dan minta maaf sama cowo yang sudah kamu hina ditelepon tadi” perintah Fuji (kakak Merrly) dengan nada mengerikan
“iya kak, nanti bakal aku telepon tapi nggak sekarang, aku mau belajar kimia buat ulanganbesok” jelas Merrly dengan kesal

xxxx
“aduh sahabatku yang cantik ini kenaduh sahabatku yang cantik ini kenapa pagi – pagi  kok sudah manyun aja” ledek Chaca
“eh cha, ini semua gara – gara si Ega” keluh Merrly
“hah? Ega si pekerja hotline psikologi itu? Emang kenapa sih sama si Ega?” sambung Deny, mendengar pembicaraan kedua sahabatnya
“enggak ada apa-apa sih, Cuma kemarin sore itu aku dimarahi abis-abisan sama kak Fuji” jawab Merrly
“kok kakak kamu bisa tahu? Kamu cerita sama dia?” tanya Chaca dan Deny
Merrly mengendus “jadi pas kemarin kita menelepon, kak Fuji mendengar pembicaraan aku sama Ega, ehpas kalian pulang aku di marahi abis-abisan”
“kenapa kakak kamu jadi marah-marah?” sahut Deny
“kamu tahu kan kalau kak Fuji itu orangnya perfeksionis abis dan dia enggak suka kalau ada orang yang kasar dan enggak menghargai orang tau” jawab Merrly
“tapi aku rasa sikap kakakmu benar juga kok, dia cuma nggak ingin kamu jadi orang yang tidak tahu sopan santun” ujar Chaca disambut anggukan Deny

xxxx
Merrly kembali menghubugi Ega dan ega pun mengangkat telepon tersebut
“Ega ya?, ini aku Merrly yang kemarin salah sambung ke nomor ini. Masih inget nggak?” tanya Merrly lemas
“emm Merrly, ada apa lagi?” tanya Ega penuh semangat
“aku minta maaf atas kata-kataku kemarin” sahut merrly
“oh, nggak apa-apa kok” suara Ega makin ramah
“benar? Kamu nggak marah sama aku?” tanya Merrly
“mungkin kemarin iya, tapi sekarang udah nggak kok. Aku bukan orang yang pendendam” jawab Ega
“syukurlah” Merrly merasa lega
“oh iya kemarin jadi nelepon ke event organizer? Nggak salah sambung lagi kan?” ejek Ega sambil tertawa
“nggak salah sambung lagi kok” Merrly sedikit malu
“jadi kamu mau buat pesta ya?” tanya Ega
“iya. Pesta ulang tahunku yang ke-17” cerita Merrly tanpa sadar merrly mulai nyaman
“ega sampai sini dulu ya, aku mau ngerjain tugas” lanjut Marrly
“oke, semangat ya ngerjain tugasnya dan sukses buat ulang tahunnya” jawab Ega
Makasih, oiya lain kali aku boleh nggak nelepon kamu lagi ga?” tanya Marrly
“boleh kok, asal nggak marah-marah lagi” balas Ega
Merrly pun menutup teleponnya dengan senyuman “kayaknya tuh cowo bisa dijadiin gebetan nih” pikir nakal Merrly

xxxx
Tiga minggu berlalu sejak perkenalan Ega dengan Merrly,dan Ega memang patner curhat yangsempurna. Merrly pun berkhayal tentang seorang pangeran misterius yang mrnghantuinya. Ega kah pangeran yang sempurna seperti yang diharapkan?. Dan suatu hari akhirnya keinginan Merrly bertemu dengan ega terwujud. Ega adalah seorang pianis terkenal. Ia mengundang Merlly, Chaca, Deny untuk menyaksikanm konser tunggalnya di gedung kesenian jakarta
Acara konser pun dimulai, Merrly, Chaca, dan Deny pun berbincang-bincang tapi sepertinya Marrly sedang fokus melihat penampilan Ega di atas panggung.
“wah Ega emang bisa dijadiin gebetan nih. Udah cakep, tajir, keren lagi” pikir Merrly
Setelah konser usai, penonton pun memberikan aplause kepada sang pianis dan akhirnya pembawa acara pun berkata ” berikanlah sambutan kepada sang pianis berbakat Ega Arbiantara yang dengan segala kekurangannya sebagai penderita tuna netra, ia mampu berkarya”
Merrly dan kedua sahabatnya pun terkejut mendengarnya. Tanpa basa-basi Merrly meninggalkan kursinya.

xxxx
Di tempat parkiran Chaca dan Deny menghampiri Marrly yang sedang menangis. “Ega emang punya segalanya, ia tampan, tajir, pianis pula, tapi dia BUTA..”Merrly semakin kejer dan terseguk-seguk
“prak” tiba – tiba Chaca menampar Merrly. “denger ya Me, mungkin kamu merasa cantik, kaya, dan pintar. Tapi ingat manusia nggak ada yang sempurna, manusia hidup bukan cuma dari daging sama tulang, tapi juga jiwa, perasaan dan hati!” bentak Chaca
“terserah kalian mau bilang apa, terserah!” ceplos Marrly
Lalu Merrly pun pergi meninggalkan kedua sahabatnya

xxxx
sesampai di rumah Merrly pun langsung bergegas tidur dan ia bermimpi. Datanglah seorang perempuan, perempuan itu lalu berkata “bagaimana duniamu sayang,yang kamu punya segalanya berakhir tak ada gunanya lagi? Bagaimana jika setiap orang satu persatu meninggalkanmu? Apakah kamu akan membayar mereka dengan hartamu untuk menghargaimu?”
Setelah mimpi itu terjadi, beberapa bulan pun berlalu. Marrly masih tak kunjung bangun dari tempat tidurnya. Matanya yang membengkak mengingat kejadian yang di konser waktu itu.
Hujanpun terhenti dan muncullah pelangi yang sangat indah...
“Ega” panggil Marrly dari pintu tempat Ega latihan
“hmm marrly yah?” Ega pun menghampiri Marrly dengan tongkatnya
“iya ga, ini aku Marly. Maaf ya ga atas kejadian yang di konser waktuitu” sahut Marrly sambil memegang tangan Ega
“iya nggak apa-apa kok Mar, aku udah maafin kamu sebelum kamuminta maaf” ega pun membalas pegangan tangan Marrly dengan lembut
“hmm.. makasih ya ga. Kita masih bisa jadi teman kan?” tanya Marrly
“tapi aku buta Mar, aku nggak sempurna” balas Ega dengan lemas
“nggak apa-apa kok ega. Aku tahu manusia itu nggak ada yang sempurna di dunia ini, kita semua mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing” jelas Marrly
Ega pun membalas dengan senyumannya yang manis itu.
“makasih ya Ega, kamu telah mengajariku  tentang kehidupan ini, oiya minggu depan datang ya ke pesta ulangtahunku” ajak Marrly
“iya Marrly, pasti kok” jawab Ega dengan penuh keceriaan
Akhirnya mereka berdua menjadi sahabat yang akrab dan mereka pun menjadi bersikap dewasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar